Puskesmas Sambau

Selamat Datang di website puskesmas sambau

Penyuluhan Dalam Gedung Tentang Pemberian Antibiotik Yang Benar

Penyuluhan dalam gedung tentang Pemakaian Antibiotik yang benar oleh dr. Putri Lotusia pada hari Senin (12 Januari 2026) di ruang tunggu puskesmas sambau.

Cara minum antibiotik yang benar adalah sesuai resep dokter, diminum tepat waktu dengan jeda teratur (misal 3x sehari berarti tiap 8 jam), dan harus dihabiskan seluruh dosisnya meskipun sudah merasa sembuh untuk mencegah resistensi bakteri, serta hindari alkohol dan jangan berbagi obat. 

Aturan Umum Minum Antibiotik

  1. Ikuti Resep Dokter: Selalu minum antibiotik sesuai dosis, jenis, dan aturan yang diberikan dokter atau apoteker.
  2. Tepat Waktu: Konsumsi secara teratur. Jika 3x sehari, minum tiap 8 jam. Jika 2x sehari, minum tiap 12 jam.
  3. Habiskan Obat: Jangan berhenti minum antibiotik meskipun gejala sudah hilang. Ini penting untuk membunuh semua bakteri penyebab infeksi dan mencegah bakteri menjadi kebal (resisten).
  4. Atur Jadwal: Jika lupa, segera minum saat ingat jika jedanya belum terlalu jauh (misal 2-3 jam). Jika sudah mendekati jadwal berikutnya, lewatkan dosis yang terlupa dan lanjutkan jadwal biasa. Jangan menggandakan dosis.
  5. Perhatikan Sebelum/Sesudah Makan: Ikuti instruksi dokter. Beberapa antibiotik diminum sebelum makan (lambung kosong), yang lain setelah makan (untuk menghindari iritasi perut).
  6. Hindari Alkohol: Alkohol dapat meningkatkan efek samping antibiotik (mual, muntah, sakit kepala, dll.).
  7. Waspada Efek Samping: Beri tahu dokter jika muncul alergi (gatal, bengkak) atau efek samping lain (diare, mual).

Hal yang Dilarang

  • Jangan berbagi antibiotik: Antibiotik untuk infeksi Anda belum tentu cocok untuk orang lain.
  • Jangan simpan sisa obat: Antibiotik sisa tidak bisa dipakai untuk infeksi lain karena jenisnya bisa berbeda.
  • Jangan gunakan antibiotik tanpa resep dokter: Ini penyebab utama resistensi bakteri.

Dengan mengikuti aturan ini, pengobatan akan efektif dan mencegah masalah resistensi antibiotik di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *